Rabu, 02 Januari 2008

Membangun paradigma kesadaran bersama


Pada tata hidup bersama, manusia dihadapkan pada societas yang menuntut suatu pemberian diri atas hidup sosial, maupun kebersamaan. Kebersamaan menuntut suatu pola "pemberian" pada tata hidup bersama.

Hidup, berpikir dan bekerja sama memampukan manusia untuk meretas sikap individualitas dan juga kemampuan akan sikap solider terhadap sesamanya.

Plato pada penegasannya mengenai Republik menyatakan, kesempurnaan manusia terdapat pada tataran hidup bersama, sosial, pendek kata intersubyektivitas manusia dikedepankan sebagai actualitas hidup bersama.

Tata hidup bersama diatur secara berkelompok untuk memudahkan pemilahan dan spesifikasi, bagian, sehingga terbentuklah polis. Polis mewujudkan komunitas yang menjadikan memiliki aturan serta kebijakan yang berbeda. Aturan serta kebijakan menjamin tata hidup bersama untuk kesejahteraan bersama/ common wealth.
Kesejahteraan bersama hanya tercapai jika ada proporsionalitas, keseimbangan, kesesuaian dengan aturan yang dibuat dengan pelaksanaan aturan, sehingga cita-cita pada tata hidup bersama dapat tercapai.

Pencapaian akan cita-cita membutuhkan regulasi dan kesadaran bersama. Kesadaran meliputi, kemampuan akal budi, pencerapan indera serta abstraksi atau kemampuan imajiner yang dimiliki manusia untuk menciptakan apa yang baik, benar dan indah.

Kesadaran akan apa yang baik, indah dan benar itu membutuhkan kesesuaian dengan apa yang manusia inginkan dan harapkan. Jika kesesuaian itu sejalan dengan harapan, maka yang terjadi adalah kebahagiaan, jika itu tidak sejalan maka yang terjadi adalah ketidakbahagiaan.

Kebahagiaan selalu mengedepankan kesejahteraan bersama, dan ketidakbahagiaan merupakan jurang menganga yang mendepankan self ego dan individualisme.

Jarak/ lokasi, tempat serta ketentuan yurisdiksi memuat suatu kebijakan yang berguna bagi kelangsungan hidup bersama. Sikap menghargai dan tenggang rasa serta menghormati antar manusia yang satu dengan yang lain menghasilkan kebahagiaan yang mewujudkan kebersamaan, keadilan, kemakmuran serta pemerataan yang dapat dinikmati bersama. Semua itu hanya bisa terjadi jika ada korelasi serta pengenalan yang baik antar subyek.

Gambaran mengenai tata hidup bersama yang harmonis serta apik digambarkan pada nas Yesaya yang menyatakan bahwa "Serigala akan tinggal bersama Domba dan Macan tutul akan berbaring di samping Kambing; anak Lembu dan anak Singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya; Lembu dan Beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang Singa akan makan jerami seperti Lembu; anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang Ular Tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Keserasian dan hidup bersama yang digambarkan jelas-jelas melampaui apa yang kodrati dan natural, amat dimungkinkan bahwa kebahagiaan dalam kebersamaan bersifat adikodrati, atau melampaui apa yang menjadi natura itu sendiri.
Jika itu dikembalikan kepada manusia itu sendiri, pertanyaan mendasar yang harus diberikan kepada manusia adalah sudah siap dan beranikan kita untuk keluar dari kemanusiawian / kodrati manusia?

Tidak ada komentar: