Rabu, 02 Januari 2008

Hukum dan Social Behavior dalam tata hidup bersama

Identifikasi antara hukum dan sosial behavior terletak pada pelaksanaan dan pemakluman dari hukum itu sendiri. Hukum secara teori dilihat sebagai acuan untuk mengembangkan dan membingkai manusia untuk tertib pada tata hidup bersama. Tata hidup bersama merekomendasikan tertib pada pelaksanaan hukum. Jika hukum tersebut dilanggar maka, dia harus dikenakan hukum sesuai dengan kesalahan dan kekeliruan/ kelalaian yang dibuatnya.

Social Behavior (SB) sendiri meretas pada sisi hidup bersama dari manusia. SB akan terwujud dengan apik dan sempurna jika dimungkinkan hukum mendapat dasar yang kokoh serta ditaati. Namun manusia sendiri pada SB tidak harus mengacu kepadanya, manusia sendiri harus punya keintiman dan kesadaran untuk mewujudkan hidupnya penuh dengan variasi dan kesadaran akan tata hidup bersama yang mengedepankan saling menghormati dan menghargai orang lain.

Jadi hukum tidak serta merta menjadi kaku sebagai bingkai, namun hukum itu sendiri sebagai wadah dan bukan satu-satunya untuk meraih kebahagian dalam kehidupan. Puncak kebahagiaan manusia itu terletak pada tata hidup bersama, sosialitas serta mengupayakan apa yang baik, benar dan indah bagi manusia yang lain. Itulah tujuan hidup manusia hidup bersama dan berdampingan dengan yang lain.

Campur tangan -Nya

Manusia dengan kemanusiawianya diciptakan segambar dan secitra dengan Allah. Ketika manusia dihadapkan pada kemanusiaannya, yang tampak harusnya citra Allah sendiri yang melingkupi dan menaungi manusia itu sendiri. Ketika manusia dihadapkan pada keputus asaan dan tidak adanya harapan, Dia sendiri yang akan membimbing jalan menuju pada harapan itu sendiri. Lantas ketika dia dihadapkan pada ketidak adilan dan carut marut yang terjadi, seharusnya, manusia bisa melihat citra Allah yang mengedepankan saling menghormati dan menghargai. Mengapa sikap tersebut susah sekali diterapkan ketika manusia tidak lagi mengedepankan citra dan gambar Allah dalam hidupnya ?
Satu pertanyaan bagi manusia secara umum, citra Allah yang mendominasi perilaku dan sikap manusia, ataukah manusia sengaja menciptakan paradigma berpikir gambar tersebut?
Allah serupa dengan manusia, mengapa manusia tidak memunculkan dan mengedepankan sikap dan citra Allah tersebut pada perilakunya? Jawabnya hanya ada pada diri kita sendiri. Selamat menjadi manusia yang manusiawi...

Rasa manusiawi dan solidaritas kita

Kejadian bencana banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi dan menimpa pada beberapa daerah yang sering kita dengan baik melalui media visual maupun audio, memungkinkan bagi kita untuk kembali mengernyitkan dahi.
Ditengah hingar bingar dan kegemilangan yang terjadi, masih ada saudara-saudara kita yang kedinginan, bingung mencari tempat berlindung, berteduh atau bahkan mengupayakan kehidupan dengan mencari makan. Bagaimana reaksi kita melihat hal ini? cukup dengan mengatakan "saya / kami merasa prihatin dengan keadaan tersebut" ataukah ditengah gelegak canda dan tawa menyatakan "untung bukan kami atau daerah kami yang terkena".

Bencana kerap menjadikan solidaritas manusia menjadi terpupuk, atau bahkan bagi orang yang keras hati akan menyatakan " itu bukan urusan saya". Pada umumnya dengan kejadian yang tidak biasanya yang mengiris serta merobek-robek sisi manusiawi dan keprihatikan manusia, manusia akan dihadapkan pada dirinya sendiri, bilamana dan bagaimana jika itu menimpa dirinya?

Jika kejadian yang memilukan manusia, mau tidak mau, jika anda hidup sebagai manusia normal, maka sisi kemanusiawian anda akan berontak, bergejolak dan mencerca, adilkah ini? dimana keadilan Tuhan? Mengapa banyak orang sukses sekaligus banyak orang tidak mampu juga menjadi korban "kebinasaan dan kebiadaban" Dimana campur tangan-Mu?

Keluarga dalam konsep Kristen

TUHAN menciptakan manusia sepasang: pria dan wanita (Kej 2: 21-25). Mereka diciptakan dalam keperbedaan tetapi satu kesatuan. Artinya, satu manusia namun dalam dua jenis kelamin yang berbeda. Manusia: pria dan wanita, sama dan sehakek

Tuhan memberikan birahi pada manusia, sehingga seorang pria akan menginginkan seorang wanita, dan sebaliknya. Namun birahi itu suci, yang digambarkan dengan kalimat: “sekalipun mereka telanjang mereka tidak merasa malu” (Kej 2: 25). Jadi, birahi diberi Tuhan bukan untuk diumbar. Birahi yang suci itu diberi untuk meme-lihara persekutuan suci antara pria dan wanita. Kepada manusia, Tuhan memberikan potensi yang luar biasa dalam kesadaran diri sebagai seorang pria dan wanita sehingga punya rasa suka yang membuat mereka bertemu dan mengikat diri. Itulah cikal bakal di mana manusia membangun keluarga. Dalam kehi-dupan keluarga, manusia mengem-ban mandat Tuhan supaya beranak cucu, menguasai bumi.

Oleh karena itu, keluarga adalah sebuah desain Allah. Keluarga bukan suatu kebetulan, bukan pula tragedi. Keluarga yang didisain Tuhan, antara pria dan wanita, harus saling mengisi dan meleng-kapi dalam perbedaan. Pasangan keluarga dijadikan Tuhan dari pria dan wanita, bukan pria de-ngan pria, atau wanita dengan wanita. Keluarga diciptakan untuk tumbuh, berkembang dan berkuasa atas bumi langit dan segala isinya. Keluarga yang bertumbuh dan berkembang itu akan menjadi masyarakat. Maka keluarga harus memuliakan Allah.

Tuhan menjadikan keluarga supaya manusia menyatu dalam keperbedaaan. Dan justru keperbedaan yang mampu membuat mereka mampu mende-monstrasikan kemampuan saling mengasihi. Keluarga menjadi satu wadah cinta kasih yang sangat luar biasa. Keluarga menjadi suatu bangunan yang sangat damai, dan model betapa indahnya hubungan antarmanusia. Keluarga yang menjadi cikal bakal dari sebuah masyarakat yang sehat: saling mengasihi, menyatu dan mampu mengekspresikan kasih Tuhan.

Karena itu, kalau masyarakat “sakit”, tidak bisa mencerminkan nilai yang seharusnya, itu pertanda bahwa keluarga-keluarga sudah kehilangan jatidiri, kehilangan peran yang mestinya mereka mainkan dalam hidup ini. Karena kalau keluarga baik, maka akan terbentuk masyarakat yang baik dan utuh. Jadi, keluarga adalah titik sentral pengharapan untuk masa depan. Keluarga titik sentral pembangunan keutuhan kebangsaan. Mem-bentuk keluarga bukan untuk sekadar memuaskan hawa nafsu seksual, atau untuk mendapatkan jaminan ekonomi. Membentuk keluarga bukan tradisi, budaya atau trend. Keluarga adalah sebuah struktur untuk memuliakan Allah.

Keluarga Kristen

Setiap orang Kristen harus menyadari dan menyikapi dengan serius bahwa keluarga adalah sebuah proyek besar yang tidak boleh gagal seumur hidup. Karena itu, proses pembentukan sebuah keluarga mesti diperhitungkan dengan matang, dikalkulasi sebaik-baiknya. Kalau kekecewaan datang, semua sudah terlambat. Memang ada “risiko” ketika sebuah keluarga dijadikan oleh Tuhan. Dikatakan, seorang pria dan seorang wanita akan meninggalkan keluarga mereka untuk dipersatukan, bukan dipersamakan. Pria dan wanita dipersatukan, sehingga dua yang berbeda tadi menjadi satu.

Keluarga disebut juga sebagai representasi persekutuan kasih, bagaimana hidup saling mengisi dan melengkapi. Keluarga harus mampu melukiskan dan menggambarkan bagaimana Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus hidup dalam ke-satuan dan kasih yang luar bia-sa, sehingga suami istri dan anak-anak mampu mengisi satu nuansa persekutuan yang bisa menimbulkan satu kekuatan luar biasa yang mampu mengatasi masalah apa pun, karena cinta kasih yang menyala.

Apakah keluarga kita sudah menjadi saksi? Sudahkah kita saling mengisi, bukan saling menjatuhkan? Kalau keluarga tidak menyadari tanggung jawab, lalai dalam pem-binaan anak-anak, maka keluarga telah menyiapkan bom waktu. Suami gelisah pada istri, istri mencurigai suami, atau orang tua kehabisan akal menghadapi tingkah anak-anak, begitu pula anak-anak merasa tidak mendapat perhatian dan perlindungan dari orang tua. Seribu satu kasus bisa ada dalam keluarga, tetapi satu kalimat yang perlu kita pegang: Apa pun masalah, jadilah pemenang untuk membawa keluarga sebagai persembahan bagi kehidupan masyarakat.

Apa pun masalah dalam keluarga, bergaullah dengan Tuhan supaya kita beres dari persoalan, dan ber-saksi kepada dunia. Dan kesaksian demi kesaksian itu bisa membawa orang pada kesadaran nilai yang hakiki dari kekristenan. Bukankah orang harus mengatakan kalau konsep keluarga Kristen itu luar biasa? Satu kali menikah tidak boleh cerai kecuali diceraikan kematian, karena mereka telah menjadi satu daging. Dan itu sangat luar biasa. Karena itu, paham ini perlu ditumbuhkembangkan sebagai satu aspek dari penginjilan itu sendiri. Jika ada yang bercerai, biarlah itu menjadi tanggung jawab masing-masing kepada Tuhan.

Karena itu, suami, istri dan anak-anak harus memainkan peran supaya keluarga mampu menye-lesaikan berbagai hal, membangun sebuah nilai luar biasa, memberi sumbangsih bagi masyarakat, gereja atau pun negara.

Membangun paradigma kesadaran bersama


Pada tata hidup bersama, manusia dihadapkan pada societas yang menuntut suatu pemberian diri atas hidup sosial, maupun kebersamaan. Kebersamaan menuntut suatu pola "pemberian" pada tata hidup bersama.

Hidup, berpikir dan bekerja sama memampukan manusia untuk meretas sikap individualitas dan juga kemampuan akan sikap solider terhadap sesamanya.

Plato pada penegasannya mengenai Republik menyatakan, kesempurnaan manusia terdapat pada tataran hidup bersama, sosial, pendek kata intersubyektivitas manusia dikedepankan sebagai actualitas hidup bersama.

Tata hidup bersama diatur secara berkelompok untuk memudahkan pemilahan dan spesifikasi, bagian, sehingga terbentuklah polis. Polis mewujudkan komunitas yang menjadikan memiliki aturan serta kebijakan yang berbeda. Aturan serta kebijakan menjamin tata hidup bersama untuk kesejahteraan bersama/ common wealth.
Kesejahteraan bersama hanya tercapai jika ada proporsionalitas, keseimbangan, kesesuaian dengan aturan yang dibuat dengan pelaksanaan aturan, sehingga cita-cita pada tata hidup bersama dapat tercapai.

Pencapaian akan cita-cita membutuhkan regulasi dan kesadaran bersama. Kesadaran meliputi, kemampuan akal budi, pencerapan indera serta abstraksi atau kemampuan imajiner yang dimiliki manusia untuk menciptakan apa yang baik, benar dan indah.

Kesadaran akan apa yang baik, indah dan benar itu membutuhkan kesesuaian dengan apa yang manusia inginkan dan harapkan. Jika kesesuaian itu sejalan dengan harapan, maka yang terjadi adalah kebahagiaan, jika itu tidak sejalan maka yang terjadi adalah ketidakbahagiaan.

Kebahagiaan selalu mengedepankan kesejahteraan bersama, dan ketidakbahagiaan merupakan jurang menganga yang mendepankan self ego dan individualisme.

Jarak/ lokasi, tempat serta ketentuan yurisdiksi memuat suatu kebijakan yang berguna bagi kelangsungan hidup bersama. Sikap menghargai dan tenggang rasa serta menghormati antar manusia yang satu dengan yang lain menghasilkan kebahagiaan yang mewujudkan kebersamaan, keadilan, kemakmuran serta pemerataan yang dapat dinikmati bersama. Semua itu hanya bisa terjadi jika ada korelasi serta pengenalan yang baik antar subyek.

Gambaran mengenai tata hidup bersama yang harmonis serta apik digambarkan pada nas Yesaya yang menyatakan bahwa "Serigala akan tinggal bersama Domba dan Macan tutul akan berbaring di samping Kambing; anak Lembu dan anak Singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya; Lembu dan Beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang Singa akan makan jerami seperti Lembu; anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang Ular Tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Keserasian dan hidup bersama yang digambarkan jelas-jelas melampaui apa yang kodrati dan natural, amat dimungkinkan bahwa kebahagiaan dalam kebersamaan bersifat adikodrati, atau melampaui apa yang menjadi natura itu sendiri.
Jika itu dikembalikan kepada manusia itu sendiri, pertanyaan mendasar yang harus diberikan kepada manusia adalah sudah siap dan beranikan kita untuk keluar dari kemanusiawian / kodrati manusia?