Rabu, 16 Januari 2008

Aktualitas Diri

Manusia "in se" terdiri atas jiwa dan raga, jiwa mengupayakan kehidupan berdasarkan apa yang rohani, kasat mata, yang mambangun spirit bagi kelangsungan hidup; sedangkan raga mengupayakan apa yang kelihatan, badani dan naturalitas, pendek kata segala yang berkaitan dengan kelangsungan hidup secara lahirian, seperti makanan dan minuman. Menyoal kehidupan berdasarkan jiwa dan raga menghasilkan suatu sintesa kebahagiaan atau lebih tepat dinyatakan secara psikis sebagai aktualisasi diri. Manusia hanya akan mencapai aktualitasnya jika pada fase apa yang menjadi kebutuhannya terlewati dan tercukupi terutama pada sisi dasar manusiawi untuk hidup. Jika sisi dasar ini kurang atau tidak lengkap maka dia tidakakan pernah bisa mengaktualkan dirinya atau membuka dirinya bagi kehidupan dan orang lain.
Produktivitas manusia hanya akan tampak pada level selanjutnya setelah dia mengalami aktualitas diri. Aktualitas diri buka aktivitas budi atau roh, juga buka aktivitas rawi atau jasmani, melainkan kondisi yang memungkinkan manusia untuk hidup, bergerak, berkembang dan bahagia, itulah aktualitas.
Jika orang mengalami aktualitas diri dengan segala hal yang dimilikinya, itu bukanlah sebagai suatu aktualitas sejati, karena itu tidak ditempatkan pada apa yang kita miliki atau upayakan melainkan sebagai suatu kondisi di dalamnya yang orang hidup,berakar dan menikmati hidup sebagai sesuatu yang indah dan mulia.

Tidak ada komentar: